Dari Port Vila Vanuatu, YPPI dorong Gagasan Papua sebagai Jantung Ketahanan Pangan Indonesia–Pasifik dan mendapat Respons Positif

PORT VILA, VANUATU 6 Oktober 2026, Gagasan menjadikan Papua sebagai bagian strategis dalam pembangunan ketahanan pangan Indonesia – Pasifik mendapat respons positif […]

Dari Port Vila Vanuatu, YPPI dorong Gagasan Papua sebagai Jantung Ketahanan Pangan Indonesia–Pasifik dan mendapat Respons Positif
Bagikan WA f

PORT VILA, VANUATU 6 Oktober 2026, Gagasan menjadikan Papua sebagai bagian strategis dalam pembangunan ketahanan pangan Indonesia – Pasifik mendapat respons positif dalam kegiatan Book Sharing and Presentation buku Papua: The Heart of Indonesia – Pacific Food Resilience di Port Vila, Vanuatu.

Buku karya Steve Rick Elson Mara, Dewan Pembina Yayasan Pemuda untuk Perdamaian Indonesia (YPPI), tersebut diperkenalkan kepada kalangan pemuda dan organisasi masyarakat Vanuatu sebagai bagian dari upaya membangun dialog mengenai masa depan pangan Indonesia dan kawasan Pasifik. Ketua YPPI, Alfred Pabika, turut hadir dalam rangkaian kegiatan tersebut.

Presentasi menyoroti posisi strategis Papua di tengah perubahan geopolitik dan meningkatnya tantangan perubahan iklim yang dihadapi kawasan Pasifik. Dalam paparannya, Steve Mara menyampaikan bahwa pangan saat ini tidak lagi semata – mata berkaitan dengan produksi pertanian, tetapi telah menjadi isu yang berhubungan dengan ketahanan nasional, keamanan manusia, stabilitas ekonomi, dan hubungan antarnegara.

Negara – negara Pasifik menghadapi tantangan yang semakin kompleks, antara lain siklon, kekeringan, perubahan pola hujan, kenaikan permukaan laut, kerusakan ekosistem, serta gangguan terhadap rantai pasok pangan. Kondisi geografis negara – negara kepulauan juga membuat distribusi dan penyimpanan pangan menjadi tantangan tersendiri.

Dalam situasi tersebut, menurut Steve, Indonesia memiliki peluang untuk memperkuat kerja sama regional melalui pengembangan sistem pangan yang lebih tangguh.

Papua menjadi bagian penting dari gagasan tersebut karena memiliki posisi geografis yang strategis, kekayaan biodiversitas, potensi pertanian dan perikanan, serta berbagai sistem pangan lokal yang telah dikembangkan masyarakat adat selama beberapa generasi.

Sagu, ubi jalar, talas, singkong, pisang, perikanan, dan berbagai produk pangan lokal merupakan bagian dari kekayaan pangan Papua yang dapat dikembangkan sebagai basis diversifikasi dan ketahanan pangan.

Namun, pembangunan pangan Papua, menurut Steve, harus dilakukan dengan pendekatan yang berkelanjutan.

“Papua’s food potential should not be measured only bythe size of its land. Its real potential lies in building anintegrated ecosystem that connects Indigenousknowledge, modern technology, infrastructure, research, investment, processing and markets.”

Menurutnya, pendekatan tersebut dapat membuka peluang bagi Papua untuk berkembang menjadi salah satu Food Hub for the Pacific.

Salah satu bagian yang menarik perhatian dalam diskusi adalah ketika peserta diperlihatkan berbagai perkembangan pembangunan Papua. Peserta menunjukkan antusiasme dan mengajukan sejumlah pertanyaan mengenai pembangunan infrastruktur, pertanian, konektivitas, pembangunan wilayah, serta potensi ekonomi Papua.

Perkembangan pembangunan Papua yang ditampilkan dalam presentasi juga memberikan perspektif baru bagi sejumlah peserta. Hal tersebut menunjukkan bahwa informasi mengenai Papua masih memiliki ruang yang luas untuk diperkenalkan secara lebih komprehensif kepada masyarakat di kawasan Pasifik.

Diskusi juga memperlihatkan adanya kesamaan kepentingan antara Indonesia dan masyarakat Pasifik dalam menghadapi tantangan pangan dan perubahan iklim.

Kalangan pemuda dan organisasi masyarakat yang hadir menyambut positif gagasan memperkuat kerja sama Indonesia dengan negara – negara Pasifik melalui food security, agriculture, fisheries, education, climateresilience, technology, research, dan knowledgeexchange.

Dalam konteks tersebut, pangan dapat menjadi instrumen baru dalam membangun hubungan antarmasyarakat.

“Food is not only about what we eat. Food can becomediplomacy. It can connect Indonesia and the Pacific through shared interests, knowledge, communities andcooperation,” kata Steve Mara.

Buku Papua: The Heart of Indonesia – Pacific Food Resilience menawarkan gagasan bahwa Papua dapat berperan sebagai salah satu penghubung strategis antara Indonesia dan kawasan Pasifik.

Pengembangan tersebut tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan produksi pangan, tetapi juga membangun ekosistem yang mencakup production, processing, storage, logistics, distribution, markets, and regional cooperation.

Bagi Steve Mara, masa depan ketahanan pangan Papua dan Pasifik harus dibangun melalui kolaborasi.

“Papua can be more than Indonesia’s eastern frontier. Itcan become a strategic bridge connecting Indonesia with the Pacific through food, knowledge, innovation andcooperation.”

Kegiatan di Port Vila menjadi salah satu langkah YPPI untuk memperkenalkan gagasan tersebut sekaligus membuka ruang dialog yang lebih luas antara Indonesia dan masyarakat Pasifik mengenai perdamaian, ketahanan pangan, perubahan iklim, pembangunan, dan kerja sama regional.