JAKARTA – Yayasan Pemuda untuk Perdamaian Indonesia (YPPI) membawa misi membangun ruang dialog dan kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dunia usaha, akademisi serta berbagai elemen masyarakat sipil.
Semangat tersebut menjadi salah satu arah utama YPPI setelah resmi dideklarasikan pada 4 September 2026.
Ketua Umum YPPI, Alfred Pabika, mengatakan berbagai persoalan sosial dan pembangunan membutuhkan komunikasi yang kuat antarpihak.
Perbedaan kepentingan tidak seharusnya selalu berakhir dalam konflik, tetapi dapat dikelola melalui dialog, keterbukaan dan kerja sama.
Dalam konteks masyarakat adat, YPPI melihat masih terdapat persoalan yang berkaitan dengan wilayah, sumber daya alam, budaya, pembangunan dan perlindungan hak masyarakat.
Karena itu, dibutuhkan ruang yang mampu mempertemukan masyarakat dengan pihak-pihak yang memiliki kewenangan maupun kepentingan terhadap pembangunan.
YPPI ingin mengambil bagian dalam membangun ruang tersebut.
Mediasi Jadi Salah Satu Pendekatan
Salah satu program yang akan dikembangkan YPPI adalah kegiatan mediasi dan advokasi.
Mediasi diharapkan menjadi sarana untuk mencari titik temu ketika terjadi perbedaan pandangan antara masyarakat dengan pemerintah maupun pelaku usaha.
Sementara melalui advokasi, YPPI ingin mendorong penguatan kebijakan yang berpihak pada kepentingan masyarakat tanpa mengabaikan kebutuhan pembangunan nasional.
Pendekatan tersebut akan didukung melalui penelitian, pendidikan, dokumentasi serta kampanye publik.
Data dan hasil penelitian diharapkan dapat membantu proses dialog agar pembahasan tidak hanya didasarkan pada kepentingan masing-masing pihak, tetapi juga pada informasi dan kondisi nyata di lapangan.
Kolaborasi Menjadi Kunci
YPPI memandang tidak ada satu institusi yang mampu menyelesaikan seluruh persoalan masyarakat secara mandiri.
Karena itu, kerja sama lintas sektor menjadi bagian penting dalam strategi organisasi.
Pemerintah memiliki peran dalam kebijakan dan pelayanan publik.
Akademisi dapat memberikan dukungan melalui penelitian dan kajian.
Dunia usaha berperan melalui investasi dan kegiatan ekonomi yang bertanggung jawab.
Sementara masyarakat merupakan pihak yang memahami secara langsung kondisi sosial, budaya serta lingkungan di wilayahnya.
Ketika seluruh unsur tersebut dapat berkomunikasi dalam posisi yang saling menghormati, YPPI menilai peluang terciptanya pembangunan yang lebih inklusif akan semakin terbuka.
Pemuda sebagai Penghubung
Generasi muda juga ditempatkan sebagai bagian penting dalam membangun komunikasi antarkelompok.
Pemuda dinilai memiliki kemampuan untuk menjembatani nilai-nilai tradisional dengan perkembangan zaman.
Mereka dapat berperan dalam pendidikan masyarakat, kampanye sosial, dokumentasi budaya, kegiatan kemanusiaan serta pembangunan jejaring.
Atas dasar itulah YPPI ingin memperkuat kapasitas generasi muda agar mampu mengambil peran lebih besar di tengah masyarakat.
Generasi muda diharapkan menjadi bagian dari lahirnya solusi, bukan sekadar menjadi penonton dalam berbagai perubahan yang berlangsung di lingkungan mereka.
Menuju Perdamaian yang Berkelanjutan
Bagi YPPI, perdamaian tidak hanya dimaknai sebagai tidak adanya konflik.
Perdamaian juga berkaitan dengan keadilan, kesempatan berpartisipasi, penghormatan terhadap budaya serta adanya ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi.
Dengan membangun dialog antara masyarakat, pemerintah dan dunia usaha, YPPI berharap berbagai perbedaan dapat diselesaikan melalui komunikasi yang konstruktif.
Organisasi ini juga ingin memperluas jejaring dengan masyarakat adat, pemuda, akademisi, organisasi masyarakat sipil dan berbagai pihak yang memiliki kepedulian terhadap isu pembangunan dan perdamaian.
Melalui semangat tersebut, YPPI ingin mengambil peran sebagai jembatan yang mempertemukan kepentingan pembangunan dengan aspirasi masyarakat, sekaligus mendorong terciptanya Indonesia yang lebih damai, inklusif dan berkeadilan.
