Papua, Food Resilience dan Masa Depan Melanesia: Pesan dari Talanoa YPPI di Suva Fiji

SUVA, FIJI  8 Oktober 2026, Gagasan menjadikan Papua sebagai salah satu bagian penting dalam membangun ketahanan pangan Indonesia dan kawasan Pasifik menjadi […]

Papua, Food Resilience dan Masa Depan Melanesia: Pesan dari Talanoa YPPI di Suva Fiji
Bagikan WA f

SUVA, FIJI  8 Oktober 2026, Gagasan menjadikan Papua sebagai salah satu bagian penting dalam membangun ketahanan pangan Indonesia dan kawasan Pasifik menjadi perhatian dalam Book Sharing and Talanoa Discussion buku Papua: The Heart of Indonesia – Pacific Food Resilience yang berlangsung di Suva, Fiji.

Diskusi yang berlangsung sekitar dua jam tersebut mempertemukan masyarakat Fiji, Mahasiswa, perwakilan organisasi masyarakat, serta Fiji Indonesia Friendship Association. Forum membahas sejumlah isu mulai dari perubahan iklim, pangan lokal, kesehatan masyarakat, harga pangan hingga peluang pengembangan food storage untuk menghadapi bencana dan gangguan rantai pasok.

Gagasan tersebut disampaikan oleh Steve Rick Elson Mara, penulis buku sekaligus Dewan Pembina Yayasan Pemuda untuk Perdamaian Indonesia (YPPI). Ketua YPPI, Alfred Pabika, turut hadir dalam kegiatan tersebut.

Dalam pemaparannya, Steve Mara terlebih dahulu menjelaskan perkembangan Indonesia dan Papua, termasuk pembangunan infrastruktur, fasilitas publik, pemerintahan, pertanian dan perkembangan sosial – ekonomi. Paparan ini sekaligus memberikan perspektif bahwa Papua tidak semata – mata dapat dilihat melalui isu konflik dan politik, tetapi juga melalui proses pembangunan dan potensi ekonomi masyarakat.

Pembahasan kemudian diarahkan pada pertanyaan mengapa Papua memiliki posisi strategis dalam ketahanan pangan Indonesia dan Pasifik.

Menurut Mara, perubahan iklim telah meningkatkan kerentanan negara – negara Pasifik terhadap siklon, perubahan pola hujan, kekeringan, kenaikan permukaan laut dan bencana alam. Kondisi tersebut dapat berdampak langsung pada produksi, penyimpanan dan distribusi pangan.

Karena itu, ketahanan pangan tidak cukup hanya berbicara mengenai peningkatan produksi. Sistem pangan juga membutuhkan penyimpanan, pengolahan, transportasi dan distribusi yang mampu bertahan ketika terjadi krisis.

Dalam sesi Talanoa setelah istirahat singkat, peserta memberikan sejumlah tanggapan dan pertanyaan.

Sekretaris Jenderal Fiji Indonesia Friendship Association menyatakan dukungannya terhadap gagasan Papua sebagai bagian dari ketahanan pangan Pasifik. Ia menilai perubahan iklim membuat persoalan penyimpanan pangan semakin penting bagi negara – negara kepulauan Pasifik. Ia juga menekankan pentingnya masyarakat mengonsumsi pangan lokal dan makanan yang sehat.

Pandangan tersebut diperkuat seorang mahasiswa MBA dari Fiji National University yang menyoroti meningkatnya konsumsi junk food dan kaitannya dengan kesehatan masyarakat. Menurutnya, pengembangan pangan lokal tidak hanya berkaitan dengan ketahanan pangan, tetapi juga kesehatan generasi mendatang.

Pertanyaan lain menyangkut apakah masyarakat Papua memperoleh manfaat dari agenda ketahanan pangan. Mara menjelaskan bahwa pembangunan di Papua tetap menghadapi perbedaan pandangan dan kritik dari masyarakat. Karena itu, pengembangan ketahanan pangan harus melibatkan masyarakat lokal, menghormati hak masyarakat adat, memperhatikan lingkungan, dan memastikan manfaat pembangunan dapat dirasakan masyarakat.

Dalam diskusi mengenai sumber pembelajaran, Mara menjelaskan bahwa buku tersebut melihat pengalaman sejumlah negara seperti Amerika Serikat, Rusia dan Tiongkok. Amerika Serikat memberikan pembelajaran mengenai inovasi dan teknologi pertanian, Rusia mengenai produksi dan cadangan pangan sebagai kepentingan strategis, sedangkan Tiongkok mengenai perencanaan jangka panjang dan pembangunan sistem pangan. Namun, pengalaman tersebut tidak dapat diterapkan begitu saja karena Papua memiliki kondisi geografis, sosial dan ekologis yang berbeda.

Salah satu gagasan penting muncul dari Presiden Fiji Indonesia Friendship Association yang mendorong agar Melanesian Spearhead Group (MSG) lebih aktif membahas ketahanan pangan dan penyimpanan pangan kawasan. Menurutnya, kerja sama Melanesia tidak hanya perlu berfokus pada politik, tetapi juga kebutuhan dasar masyarakat.

Ia mengusulkan agar negara – negara MSG dan pemimpin Pasifik dapat berdialog dengan Indonesia mengenai kemungkinan pengembangan Papua sebagai salah satu pusat produksi maupun penyimpanan pangan regional yang dapat mendukung kawasan ketika menghadapi bencana alam, siklon atau gangguan pasokan.

Bagi Mara, diskusi di Suva menunjukkan bahwa pangan dapat menjadi jembatan baru dalam hubungan Indonesia dan Pasifik. “Food can become a bridgebetween Indonesia and the Pacific,” ujarnya.